PENDIDIKAN

Archive for the ‘TUNTUNAN AGAMA’ Category

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang paling zuhud, warak dan soleh setelah 4 Khulafaur Rasyidin. Beliau memerintah negara Islam selama 2 tahun 5 bulan saja dan wafat pada umur 39 tahun sebab diracun oleh pembesar-pembesar Bani Umaiyyah.

Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz sangat ingin memakan buah apel, tetapi tidak mempunyai uang untuk membelinya, karena semua hartanya dan harta keluarga telah beliau berikan kepada Baitulmal ketika menjadi khalifah. Lalu ada seseorang dari kaum keluarganya menghadiahkan buah apel dan dihidangkan kepada Khalifah Umar oleh Amru bin Muhajir.

Tiba-tiba beliau berkata: “Alangkah wangi dan bagusnya apel ini. Wahai ghulam, angkat apel ini dan pulangkan kepada orang yang membawanya. Sampaikan salam kepadanya, sesungguhnya hadiahnya telah sampai kepadaku ketika aku sudah tiada selera untuk makan apel.”

Amru bin Muhajir tahu bahwa Khalifah bertindak demikian karena waraknya. “Wahai Amirul Mukminin! Dia adalah sepupumu dan masih ahli keluargamu, sedang engkau telah mendengar bahwa Rasulullah saw mau menerima hadiah,” kata Amru.

“Celaka engkau, sesungguhnya hadiah bagi Rasulullah saw memang hadiah. Akan tetapi hadiah pada hari ini bagi kami adalah merupakan rasuah (suap),” kata Khalifah Umar.

Diceritakan bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang berada di kantor untuk kerja lembur kerajaan. Keadaan ruangan sangat gelap hingga terpaksa memasang lampu pelita. Seseorang datang dan masuk kantor Khalifah setelah diizinkan. Tiba-tiba Umar memadamkan api pelita itu, maka beliau bercakap dengan tamunya dalam keadaan gelap, membuat orang lain keheranan.

“Mengapa Amirul Mukminin melayani tamu dalam keadaan gelap?” tanya seorang pegawai Khalifah.

“Yang datang tadi itu adalah keluargaku. Dia datang kepadaku karena ada urusan pribadi, sedangkan lampu pelita adalah milik negara. Oleh sebab itu, ketika aku berbicara masalah pribadi, aku padamkan lampu tersebut karena tak mau terpakai milik negara.” kata Umar bin Abdul Aziz.

Lihatlah betapa amanahnya seorang pemimpin Islam pada waktu itu. Beliau tidak menggunakan kedudukannya sebagai Khalifah untuk kepentingan sendiri atau kaum keluarga dan sahabat malah apa yang beliau ada disedekahkan ke Baitulmal.

Kita tidak mengharap pemimpin sekarang menyedekahkan seluruh harta mereka. Tetapi kita mau mereka ini amanah dan tidak rasuah (korupsi), tidak menggunakan kedudukan untuk kepentingan peribadi.

8

Imam Tarmizi adalah salah seorang daripada enam ulama Hadits terkemuka yang mengarang Kitab Hadits yang dikenali dengan nama Sunan Sittah (Sunan yang enam). Nama sebenar Imam Tarmizi diambil sesuai tempat tinggal kelahirannya, Termez, sebuah kota kecil yang terletak di Utara sebatang sungai utama di Uzbeskitan, Sungai Amudariya. Jaraknya dari Bukhara, tempat lahir Imam Bukhari, hanya lebih kurang 400 Km.

Lahir pada bulan Zulhijjah tahun 209 Hijrah, yaitu kira-kira 15 tahun setelah kelahiran Imam Bukhari dan tiga tahun setelah kelahiran Imam Muslim yang lahir di dearah Naisabur, di timur laut Iran. Beliau mempelajari Ilmu Hadits ketika berumur 20 tahun sesudah mempelajari lain-lain ilmu agama pada Ulama- ulama terkenal di dearahnya.

Kecenderungannya kepada ilmu Hadits bermula setelah membaca karangan Imam Syafi’i yang menerangkan cara mengambilan dalil dari Hadits dan mengunakannya sebagai hujah untuk memutuskan hukum-hukum yang perlu kepada ijtihad ulama. Beliau telah mengembara untuk menuntut ilmu ke Iraq, Hijaz, negeri-negeri lain di khurasan dan juga di mana saja diketahuinya terdapat ulama-ulama Hadits.

Diberitakan, beliau masih menulis walaupun usianya sudah begitu lanjut. Beliau wafat pada malam Senin, 13 Rajab tahun 279 Hijrah ketika berusia 70 tahun dan dimakamkan di kota Termez tempat kelahirannya. Walaupun semasa hidup beliau banyak merantau untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama terutamanya ilmu Hadits.

Apa Kata Ulama-Ulama Tentang Imam At-Tarmizi
“Manfaat yang ku terima darimu (At Tarmizi) jauh lebih besar dari yang engkau terima dariku” – Imam Bukhari (Guru Imam Tarmizi)
“At tarmizi tergolong dalam mereka yang mencatat,mengarang,menghafal menulis dan mengkaji” – Ibnu Hibban
“At Termizi merupakan satu contoh teladan dari daya penghafalannya” – Ibnu Saad Al Idris
“Setelah meninggalkan Al Bukhari, tiada siapapun di Khurasan yang menyamai At Tarmizi dari segi ilmu pengetahuan, daya ingatan, warak dan zuhudnya” – Al Hakim
“Imam At Tarmizi telah diterima oleh semua orang.Ia terkenal dengan sifat amanah, kaya dengan ilmu dan berwibawa” – Abu Ya’Li Al Khalili

Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit bin Zautha, lahir pada tahun 80 H (660 M) dan tinggal di Kufah. Orang tuanya berasal dari keturunan Persia dan ketika ia masih dalam kandungan di bawa pindah ke Kufah dan menetap disini hingga Abu Hanifah lahir.

Menurut cerita, ketika Zautha bersama anaknya Tsabit (ayah Abu Hanifah) berkunjung kepada Ali bin Abi Thalib, dengan serta merta kedua orang ini didoakan agar mendapat keturunan yang mulia. Abu Hanifah dibesarkan di Kufah dan di kota ini ia mulai belajar dan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Setelah itu bepergian ke Hijaz, terutama di Mekkah dan Madinah untuk menambah dan memperdalam ilmu dan wawasan yang luas. Ia berusaha memahami pemikiran hukum yang bersumber dari Umar dan Ali bin Abi Thalib melalui sahabat-sahabat mereka. Termasuk diantaranya ialah Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim an Nakhai, Abdulah bin Mashud, dan Abdulah bin Abbas. Ia pernah bertemu dengan beberapa sahabat Rasulullah seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Auqa di Kufah, Sahal bin Sa’ad di Madinah dan Abu Thufail Ibnu Wailah di Mekah.

Karya karyanya yang sampai kepada kita adalah kitab al-Fiqul Akbar, kitab Al-Risalah, kitab Al-‘Alim wal Mutallim dan kitab Al-Washiyah. Tidak ada buku fiqih karya Abu Hanifah. Meskipun demikian tulisan murid-muridnya telah merekam secara lengkap semua pandangan fiqih Abu Hanifah hingga menjadi ikutan kaum muslimin. Muridnya antara lain Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Auza’i, Zafr bin al-Ajil bin Qois, Muhammad bin Hasan bin Farqad al-Syaibani dan al-Hasan bin Ziyad al-lu’lu’i. Murid-murid inilah yang merekam dan menulis pemikiran Abu Hanifah, baik bidang akidah maupun bidang hukum. Murid-murid di bidang tasawuf antara lain Ibrahim bin Adham Fudhail bin ‘Iyad, Dawud al-Tha’i dan Bisyt al-Hafi.

Abu Hanifah memiliki ilmu yang luas dalam semua kajian Islam hingga ia merupakan seorang mujtahid besar (imamul a’zham) sepanjang masa. Meskipun demikian ia hidup sebagaimana layaknya dengan melakukan usaha berdagang dalam rangka menghidupi keluarga. Dengan prinsip berdiri di atas kemampuan sendiri, ia prihatin juga terhadap kepentingan kaum muslimin, terutama bagi mereka yang berhajat akhlak yang mulia yang dimilikinya mampu mengendalikan hawa nafsu, tidak goyah oleh imbauan jabatan dan kebesaran duniawi dan selalu sabar dalam mengahadapi berbagai cobaan. Meskipun ia berdagang ia hidup sebagai kehidupan sufi dengan zuhud, wara, dan taat ibadah. Kalau kita hayati kehidupannya maka akan nampak kepada kira bahwa Abu Hanifah hidup dengan ilmu dan bimbingan umat dengan penuh kreatif, hidup dengan kemampuan sendiri tidak memberatkan orang lain. Disamping menjalankan usaha dagangnya. ia juga hidup dengan ibadah yang intensif siang dan malam.

Selama hidupnya beliau berhasil melaksanakan tawazzun (keseimbangan). Di samping sebagai seorang faqih dengan kemampuan intelektual yang cemerlang, beliau juga mengkhususkan waktu untuk mencari nafkah dengan berdagang, dan beliau juga ahli ibadah. Beliau dikenal amat pemurah, berbudi pekerti luhur dan suka memuliakan orang lain, tanpa pandang bulu siapa orang tersebut. Disamping itu beliau lebih suka memberi daripada menerima.

Saat Khalifah al-Manshur akan mengangkat hakim agung dengan memiliki salah satu diantara 4 orang ulama besar: Abu Hanifah, Sofyan Tsauri, Mis’ar bin Kidam, dan Syuraih. Sementara mereka berjalan bersama menemui Khalifah, Abu Hanifah bekata kepada para sahabat-sahabatnya: “Aku akan menolak jabatan ini dengan cara tertentu. Mis’ar hendak menolaknya dengan berpura -pura menjadi gila, Safyan Tsauri akan lari ke negeri lain dan Syuraih agar dapat menerima jabatan ini.” Sofyan lalu kabur pergi ke pelabuhan untuk naik kapal menuju negeri lain. Yang lain melanjutkan dan bertemu kalifah dalam sebuah pertemuan resmi. Khalifah berkata kepada Abu Hanifah: “Engkau harus bersedia menjadi hakim agung.” Abu Hanifah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, aku bukan orang Arab dan pemimpin-pemimpin Arab tidak akan menerima keputusan-keputusanku. Karena itu aku merasa bahwa aku tidak cocok untuk jabatan ini.” Khalifah berkata: “Jabatan ini tidak ada kaitannya dengan masalah keturunan melainkan berkaitan dengan keahlian. Dan engkau adalah seorang ulama terkemuka di masa ini.” Abu Hanifah berkata: “Wahai Khalifah, apa yang baru kukatakan menunjukkan bukti bagaimana keberadaan saya. Jika telah kukatakan aku tidak cocok, dan apabila ini adalah sebuah kebohongan tentu aku tidak cocok dan juga tentu tidak dibenarkan seorang pendusta menjadi hakim atas kaum muslim dan tidak dibenarkan pula engkau mempercayai kepada kehidupan kekayaan dan kehormatan yang engkau miliki.” Lalu Mis’ar tampil ke muka dengan menjabat tangan khalifah dan bertanya macam-macam yang tidak layak hingga khalifah marah dan menyatakan gila dan khalifah meminta Syuraih untuk menjadi hakim agung tersebut, dan menolaknya setiap alasan yang dikemukakannya.

Suatu kali Khalifah Abu Ja’far al Manshur, yang terkenal jarang memberi sedekah kepada orang lain, menawarkan harta sebanyak 10.000 dirham kepada Abu Hanifah, namun beliau menolaknya sembari mengatakan, “Wahai Khalifah, aku orang asing di Baghdad, aku tak memiliki tempat yang aman untuk menyimpan harta tersebut. Simpanlah harta itu di Baitul Maal, sehingga jika kelak aku membutuhkannya aku dapat memintanya darimu.” Seorang sahabatnya berkata kepadanya: “Kepada anda diberikan dunia anda menolaknya padahal anda berkeluarga.” Abu Hanifah menjawab: “Keluargaku kuserahkan kepada Allah, sedang makananku sebulan cukup dua dirham saja.”

Di Kufah, Abu Hanifah dikenal sebagai pedagang yang sangat dipercaya karena sikap amanahnya, kemurahan hati dan kejujuran yang beliau miliki.

Sikap-sikap inilah yang senantiasa menjadikan dagangan beliau laku keras. Dan lewat usahanya ini, Allah menganugerahkan rizki yang melimpah kepada Abu Hanifah. Setiap akhir tahun disisihkannya sebagian dari keuntungannya untuk dizakatkan, dan disumbangkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Abu Hanifah punya mitra dagang bernama Hafs Abdurrahman. Dia inilah yang menjalankan dagangan Abu Hanifah ke para konsumen. Suatu ketika Abu Hanifah menyiapkan dagangan untuknya dengan memberikan wanti-wanti bahwa pada barang dagangannya yang tertentu ada cacatnya. “Jika engkau ingin menjualnya, jangan lupa jelaskan pada para pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut”, pesan Abu Hanifah.

Semua barang tersebut akhirnya terjual habis, namun Hafs lupa memberikan penjelasan kepada para pembeli tentang cacat yang ada pada beberapa barang seperti yang dipesankan Abu Hanifah. Setelah menyadari kesalahannya, Hafs berusaha untuk mencari para pembeli barang tersebut, tapi usahanya itu sia-sia.

Akhirnya masalah tersebut diketahui Abu Hanifah, sehingga beliau juga berusaha mencari para pembelinya. Namun usaha tersebut juga tidak membawa hasil. Sejak saat itu Abu Hanifah selalu gelisah dan murung. Akhirnya untuk menebus kesalahannya tersebut, segera bersedekah sebanyak 30.000 dirham.

Dalam kehidupan, disamping memiliki akhlak dan tingkah laku mulia, ia selalu menjaga kesucian diri dan harta, disamping ia selalu dalam peribadahan selama 40 tahun Abu Hanifah memenuhi malam malamnya dengan shalat dan selama itu shalatnya Subuh dilaksanakan dengan wudhu pada waktu Isya. Dan dalam shalatnya itu dibacanya Al-Quran dan konon ketika ia meninggal ia telah menghatamkan al-Quran 7000 kali.

Ilmu yang dimiliki oleh Abu Hanifah demikian luas terutama temuan-temuannya dibidang hukum dan memecahkan masalah-masalahnya sejumlah 60.000 masalah hingga di digelar dengan Imam al-A’zdam dan kuluasan ilmunya itu diakui oleh Imam Syafi’i beliau berkata: “Manusia dalam bidang hukum adalah orang yang berpegang kepada Abu Hanifah.”

Tampak ilmu Abu Hanifah bukan hanya bidang hukum tetapi juga meliputi bidang lainnya termasuk tasawuf. Menurut Yahya bin Mu’azd al-Razi dalam suatu mimpi ia bertemu dengan Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah di mana akan aku cari engkau?” Rasulullah menjawab: “Di dalam ilmu Abu Hanifah,” demikian Rasulullah.

Ketika Daud al-Tha’i telah beroleh ilmu yang luas dan sudah mencapai popularitas yang tinggi dia berkunjung menemui Abu Hanifah seraya berkata: “Saya mohon diberikan wejangan dan petujuk.” Abu Hanifah berkata: “Amalkan apa yang telah engkau pelajari, karena teori tanpa praktek ibarat tubuh tanpa roh.” Petunjuk ini menghendaki adanya mujahadah dan dengan mujahadah akan didapat musyahadah.

Thabarani memberitakan dari Ummi Sulaim ra. dia berkata: Pernah Rasulullah SAW keluar berjihad dan ikut bersamanya sebilangan kaum wanita dari kaum Anshar, maka merekalah yang memberikan minum kepada orang-orang yang sakit, memberi obat kepada orang-orang yang luka-luka. (Majmauz-Zawa’id 5:324)

Muslim dan Termidzi telah memberitakan dari Anas ra. dia berkata: Pernah Rasulullah SAW keluar berjihad dengan membawa Ummi Sulaim ra. dan beberapa orang wanita dari kaum Anshar yang ditugaskan untuk menyediakan air minum dan menguruskan orang-orang yang luka-luka dalam peperangan.

Bukhari telah mengeluarkan berita dari Ar-Rabik binti Mu’awwidz ra. dia berkata: Kami pernah ikut Nabi SAW keluar berjihad, lalu kamilah yang menguruskan luka-luka para pejuang, dan mengangkat orang-orang yang gugur syahid ke kemah kami. Suatu berita lain darinya juga, katanya: Kami pernah keluar dengan Nabi SAW ke medan perang, dan kamilah yang memberikan minum kepada para pejuang, menguruskan semua keperluan mereka, dan mengangkat mereka yang mati terbunuh atau yang luka kembali ke Madinah.

Imam Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummi Athiyah Al-Anshariyah ra. dia berkata: Aku pernah keluar berjihad bersama-sama Rasulullah SAW sebanyak tujuh peperangan, aku menjaga kemah-kemah mereka, memasak makanan buat mereka, mengobati orang-orang yang luka, dan membantu orang- orang tua yang sudah tidak terdaya lagi. (Al-Muntaqa)

Thabarani meriwayatkan dari Laila Al-Ghifariyah ra. dia berkata: Aku pernah keluar berjihad bersama Rasulullah SAW dan aku mengobati orang-orang yang luka. (Maima’uz-Zawa’id 5:32,4)

Bukhari telah memberitakan dari Anas ra. dia berkata: Pada hari peperangan Uhud ramai orang Islam yang terkocar-kacir dan terpisah dari Nabi SAW Dan aku lihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummi Sulaim tergesa-gesa membawa kantung Qirbah (terbuat dari kulit kambing) yang berisi air, memberi minum orang-orang yang dahaga dalam pertempuran itu. Sesudah habis mereka pergi lagi mengisi air dan memberi minum kepada tentara Islam yang berperang itu. (Baihaqi 9:30)

Bukhari telah memberitakan dari Tsaklabah bin Abu Malik ra. bahwa Umar bin Al-Khatthab ra. telah membagi-bagikan kain antara kaum wanita, dan ada sisa sepotong kain yang agak baik sedikit, maka berkata orang-orang yang di sisi Khalifah Umar ra.: Wahai Amirul Mukminin! Kain potong yang lebih ini berikanlah kepada cucunda Rasulullah SAW yang menjadi isterimu – maksudnya Ummi Kultsum binti Ali ra. Tetapi mereka dijawab oleh Khalifah Umar ra.: Ummi Sulaith lebih berhak darinya (Ummi Kultsum), dan Ummi Sulaith seorang wanita Anshar, di antara yang membaiat Rasulullah SAW. Tambah Umar ra. lagi: Karena dia pernah memberi kita minum pada hari peperangan Uhud. (Kanzul Ummal 7:97)

Abu Daud memberitakan dari Hasyraj bin Ziyad dari neneknya ra. bahwa mereka pernah keluar berjihad bersama-sama Nabi SAW di medan Hunain, dan mereka mengatakan: Kami mendendangkan syair-syair yang memberi semangat kepada para pejuang membantu keperluan mereka, mengobati para pejuang yang luka, memberi mereka panah dan menyediakan bubur sawiq, dari Abdul Razzak dari Az-Zuhri, dia berkata pula, bahwa kaum wanita ada yang menyaksikan pertempuran di medan perang, memberi minum para pejuang, mengobati mereka yang luka. (Fathul Bari 6:51)

Zainab binti Jahsy adalah putri dari bibi Rasulullah yang bernama Umaymah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Zainab adalah seorang wanita yang cantik jelita dari kaum bangsawan yang terhormat. Dipandang dari ayahnya, Zainab adalah keturunan suku Faras yang berdarah bangsawan tinggi.

Ia dinikahkan Rasulullah dengan anak angkat kesayangannya Zaid bin Haritsah. Tetapi pernikahan itu tidak berlangsung lama, mereka akhirnya bercerai. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Muhammad S.A.W untuk menikahi Zainab. “Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu`min untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adapun ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS Al-Ahzab[33]:37)

Bukhori meriwayatkan dari Anas, Zainab sering berkata, “Aku berbeda dari istri-istri Rasulullah S.A.W yang lainnya. Mereka dikawinkan oleh ayahnya, atau saudaranya, atau keluarganya, tetapi aku dikawinkan Allah dari langit.”

Zainab adalah seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang, suka menolong fakir miskin dan kaum lemah. Dia senang sekali memberi sedekah, terutama kepada anak yatim.

Rasulullah pernah bersabda kepada istrinya, “Yang paling dahulu menyusulku kelak adalah yang paling murah tangannya.” Maka berlomba-lombalah istri beliau memberikan sedekah kepada fakir miskin. Namun tak ada yang bisa mengalahkan Zainab dalam memberikan sedekah. Dari Aisyah r.a berkata, “Zainab binti Jahsy adalah seorang dari istri-istri Nabi yang aku muliakan. Allah S.W.T menjaganya dengan ketaqwaan dan saya belum pernah melihat wanita yang lebih baik dan lebih banyak sedekahnya dan selalu menyambung silaturahmi dan selalu mendekatkan dirinya kepada Allah selain Zainab.”

Mengapa ?, apakah karena Rasulullah memberikan belanja yang berlebih terhadap Zainab ? Tidak, Rasulullah S.A.W tidak pernah berbuat seperti itu. Lalu dari manakah Zainab mendapatkan uang untuk sedekah ? Ia memiliki berbagai macam keahlian. Ia bisa menyamak kulit, memintal serta menenun kain sutra, hasilnya dijual dan disedekahkan. Hal itulah yang menyebabkan wanita cantik istri Rasulullah ini bersedekah lebih banyak dari yang lainnya.

Setelah Rasulullah wafat, Zainab memperbanyak usahanya, agar bisa melipat gandakan uang yang diterimanya. Ketika ia mendapat bagian harta dari Baitul Mal dimasa kholifah Umar r.a dia berdoa, “Ya Allah janganlah harta ini penyebab fitnah.” Segera ia bagikan harta itu kepada yatim piatu dan fakir miskin. Mendengar itu Umar r.a mengirim lagi, tetapi Zainab membagi – bagikannya lagi kepada yatim piatu dan fakir miskin. Wanita pemurah itu wafat pada tahun 44 H pada masa Kholifah Muawiyah. Wallahu a`lam.

Disarikan dari Shifatush Shofwah, Ibnu Jauzi dan Qishhshu An-Nisa Fi Al Qur`an Al-Karim, Jabir Asyyaal

ZAINAB AL KUBRA R.A. , Seorang wanita cucu Rasulullah SAW, yang begitu tabah dan tetap tegar menghadapi ujian dan cobaan, demi kemuliaan keturunan Rasulullah SAW.

Menulis tentang Sitti Fatimah Azzahra dengan meninggalkan begitu saja kedua puterinya, rasanya memang kurang adil. Apalagi kalau yang dibicarakan itu menyangkut puterinya yang bernanna Zainab Al-Kubra. Ia tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita yang tabah dan gagah berani Seperti diketahui, di samping kedua puteranya yang termasyhur itu, dalam perkawinannya dengan Imam Ali r.a., Sitti Fatimah Azzahra juga diberkahi oleh Allah s.w.t. dengan dua orang puteri. Mereka itu adalah Zainab Al-Kubra dan Zainab Ash-Sugra. Bersama dengan Al-Hasan dan Al-Husain r.a., kedua wanita itu sudah sejak masa anak-anak ditinggalkan untuk selamalamanya oleh ibundanya. Dalam usia yang masih muda sekali ini, sesaat sebelum wafat Sitti Fatimah r.a. telah berpesan khusus kepada Zainab Al-Kubra agar ia menjaga baik-baik kedua saudara lelakinya itu.

Memang, beban yang terberat bagi Sitti Fatimah Azzahra sebelum meninggal dunia rupanya adalah keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu. Dikisahkan bahwa sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Sitti Fatimah r.a. tak dapat menahan kepedihan hatinya. Ia harus memenuhi panggilan Ilahi pada usia yang begitu muda, 28 tahun. Sedangkan anak-anaknya belum satu pun yang mencapai usia sepuluh tahun.

Sesudah itu pada usia masih remaja, bahkan masih anak-anak, Zainab Al-Kubra sudah diserahi tanggung jawab untuk menjaga adik-adik dan merawat kakak-kakaknya. Tidak banyak yang bisa diungkapkan mengenai peran masa anak-anak yang dilakukan oleh kedua puteri Sitti Fatimah Azzahra itu. Riwayat-riwayat hanya mengungkapkan kehidupan dan perkembangan Al Hasan dan Al Husain r.a. Hal ini tidak perlu diherankan, karena dunia kehidupan Arab yang keras jarang sekali mengedepankan peran seorang wanita. Jadi walaupun Zainab Al-Kubra dan Zainab Ash Sugra termasuk dalam lingkungan keluarga sangat mulia nama mereka jarang sekali ditonjolkan.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Zainab Al Kubra meningkat remaja, maka peranannya diungkapkan oleh para periwayat. Sejarah akhirnya mencatat namanya dan mengakui peran penting yang dijalankan oleh Zainab Al Kubra dalam melindungi kesinambungan generasi penerus keluarga RASUL Allah s a w. Bagaimana pun juga, walau Zainab Al Kubra seorang wanita, tetapi ada darah kemuliaan dan kesucian yang mengalir dalam tubuhnya. Sejak masa anak-anak ia telah turut memikul tanggung jawab kehidupan rumahtangga Imam Ali r.a. yang ditinggal wafat oleh Sitti Fatimah Azzahra. Zainab Al Kubra dengan tekun dan tabah melaksanakan amanat yang ditinggalkan oleh bundanya sesaat sebelum wafat. Dengan penuh tanggung jawab dirawatnya adik-adik dan kedua kakaknya itu. Boleh dikatakan ia tak pernah berpisah jauh dari kedua saudara lelakinya itu.

Tidak ada pengungkapan mengenai kelanjutan kehidupan Zainab Ash-Sugra. Sedangkan tentang Zainab Al Kubra justru makin menonjol setelah Al-Husain r.a. gugur di Karbala. Wanita inilah pada usia sudah lebih setengah abad tanpa mengebal gentar sedikit pun sedia mati untuk menyelamatkan keturunan langsung Rasul Allah s.a.w. Ia menjadi saksi hidup tentang siksaan yang dialami oleh saudara lelakinya itu sampai Al-Husain r.a. meninggal dengan gagah berani.

Lembaran sejarah hijrah Ummat Islam ke Madinah, barangkali tidak bisa melupakan torehan tinta seorang ibu dengan putrinya yang masih balita.

Keduanya, hanya dengan mengendarai unta dan tidak ada seorang lelakipun yang menemaninya, meski kemudian ditengah jalan ada orang yang iba dan kemudian mengantarnya, berani menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang dan melawan ganasnya padang sahara, mengarungi perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, kurang lebih 400 km. Dialah Salamah dan ibunya, Hindun bin Abi Umayyah atau sejarah lebih sering menyebutnya dengan Ummu Salamah.

Ummu Salamah adalah putri dari pemuka kaum kaya dibani Mughirah, Abi Umayyah. Parasnya jelita dan ia adalah seorang yang cerdas. Setelah menginjak usia remaja ia dinikahkan dengan Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Lalu keduanya berkat hidayah Allah SWT menyatakan keislamannya.

Ketika kaum Muslimin berhijrah ke Madinah, keduanya ikut pula di dalamnya, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Abdullah (Abu Salamah) berangkat terlebih dahulu, setelah itu Ummu Salamah menyusul seorang diri dengan anaknya. Lalu mulailah mereka berdua menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya di kota Madinah tercinta.

Tapi tak lama kemudian Abu Salamah akibat luka yang dideritanya semenjak perang Uhud meninggal dunia. Akhirnya Ummu Salamahpun seorang diri mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Kemudian datanglah Abu Bakar ra untuk melamarnya, juga Umar bin Khattab ra. Namun dengan lemah lembut kedua lamaran tersebut ia kembalikan.

Setelah itu datang pula utusan Rasulullah SAW untuk meminangnya. Ummu Salamahpun menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW akhirnya ia menerima lamaran tersebut.

Di antara para istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri yang tertua. Dan untuk menghormatinya, Rasulullah SAW sebagaimana kebiasaannya sehabis sholat Ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya maka beliau memulainya dengan Ummu Salamah ra dan mengakhirinya dengan Aisyah ra.

Ummu Salamah wafat pada usia 84 th, bulan Dzul-Qo’dah, tahun 59 Hijrah atau 62 Hijrah dan dikebumikan di Baqi’. Wallahu a’lam bish-Showab.

(Diolah dari Shifatus Shofwah, Ibnu Jauzi; Min ‘Alamin Nisa; M.Quthb,dll)


Negara Yang Sudah Berkunjung

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Kawan Sejati

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Koleksi Film Harun Yahya

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog Partnerku (elsabarto.co.cc)

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS FOSS-ID

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Presiden SBY

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Yang Sudah Mampir Ada

  • 487,844 Orang
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.