PENDIDIKAN

TAUHID

Posted on: September 22, 2008

Mengenal ALLAH

Dalam kitab dikatakan, awaluddin makrifatullah (awal-awal agama ialah mengenal ALLAH). Apabila seseorang itu tidak mengenal ALLAH, segala amal baktinya tidak akan sampai kepada ALLAH SWT. Sedangkan, segala perintah suruh yang kita buat, baik yang berbentuk fardhu maupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi, baik yang berbentuk haram maupun makruh, merupakan persembahan yang hendak kita berikan kepada ALLAH SWT.
Kalau kita tidak kenal ALLAH SWT, maka segala persembahan itu tidak akan sampai kepada-Nya. Ini berarti, sia-sialah segala amalan yang kita perbuat.

Bila seseorang itu sudah kenal ALLAH, barulah apabila dia berpuasa, puasanya sampai kepada ALLAH. Apabila dia sholat, sholatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada ALLAH SWT. Apabila dia berjuang, berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala amal bakti, semuanya akan sampai kepada ALLAH SWT.

Kerana itulah, makrifatullah (mengenal ALLAH) ini amat penting bagi kita. Jika kita tidak kenal ALLAH, kita bimbang segala amal ibadah kita tidak akan sampai kepada-Nya, ia menjadi sia-sia belaka. Boleh jadi kita malah hanya akan tertipu oleh syaitan saja. Kita mengira amalan yang kita perbuat sudah kita persembahkan pada ALLAH, padahal itu adalah jebakan syaitan. Ini karena kita tidak mengenal ALLAH, sehingga kita tidak mampu membedakan ilah (tuhan) yang kita ikuti, apakah itu ALLAH, atau syaitan yang menipu daya.
Sebab itulah mengenal ALLAH itu hukumnya fardhu ‘ain bagi tiap-tiap mukmin.

Mengenal ALLAH dapat kita lakukan dengan cara memahami sifat-sifat-Nya. Kita tidak dapat mengenal ALLAH melalui zat-Nya, karena membayangkan zat ALLAH itu adalah suatu perkara yang sudah di luar batas kesanggupan akal kita sebagai makhluk ALLAH. Kita hanya dapat mengenal ALLAH melalui sifat-sifat-Nya.

Untuk memahami sifat-sifat ALLAH itu, kita memerlukan dalil aqli dan dalil naqli.
Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa Arab = akal).
Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Melalui dalil aqli dan dalil naqli ini sajalah kita dapat mengenal ALLAH. Tanpa dalil-dalil itu, kita tidak dapat mengetahui sifat-sifat ALLAH, dan kalau kita tidak mengetahui sifat-sifat ALLAH, berarti kita pun tidak mengenal ALLAH.

Sifat-sifat ALLAH

Sifat-sifat Wajib
Sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh ALLAH SWT, jumlahnya 20.
Sifat-sifat Mustahil
Sifat yang mustahil dimiliki ALLAH SWT, jumlahnya juga 20.
Sifat Jaiz / Mubah
Sifat yang bebas bagi ALLAH, jumlahnya hanya satu, yaitu ALLAH SWT berkehendak sesuatu atau tidak berkehendak.

Sifat-sifat Allah

No Sifat Wajib Sifat Mustahil

1

Wujud

Ada

Adam

Tidak ada

2

Qidam

Dahulu

Huduus

Baru

3

Baqa’

Kekal

Fana

Rusak

4

Mukhalafatuhu lil hawadits

Berbeda dengan ciptaan-Nya

Mumatsalatuhu lil hawadits

Sama dengan ciptaan-Nya

5

Qiyamuhu binafsihi

Berdiri dengan sendirinya

Ihtiyaju lighairihi

Membutuhkan yang lain

6

Wahdaniyyah

Esa atau Tunggal

Ta’addud

Berbilang

7

Qudrah

Berkuasa

‘Ajzun

Lemah

8

Iradah

Berkehendak

Karahah

Terpaksa

9

Ilmu

Mengetahui

Jahlun

Bodoh

10

Hayat

Hidup

Mautun

Mati

11

Sam’un

Mendengar

Samamum

Tuli

12

Basar

Melihat

Umyun

Buta

13

Kalam

Berkata

Bukmun

Bisu

14

Qadirun

Yang Berkuasa

‘Ajizun

Yang maha lemah

15

Muridun

Yang Berkehendak

Mukrahun

Yang maha terpaksa

16

‘Alimun

Yang Mengetahui

Jahilun

Yang maha bodoh

17

Hayyun

Yang Hidup

Mayyitun

Yang mati

18

Sami’un

Yang Mendengar

Ashamma

Yang maha tuli

19

Basirun

Yang Melihat

A’maa

Yang maha buta

20

Mutakallimun

Yang Berbicara

Abkama

Yang maha bisu

  1. Wujud, artinya ada. Sifat mustahilnya ‘Adam, artinya tidak ada.

    Tidak mudah untuk membuktikan bahwa ALLAH itu ada, kecuali bagi orang-orang yang beriman.
    Memang kita tidak dapat melihat wujud ALLAH secara langsung, tetapi dengan menggunakan akal, kita dapat menyaksikan ciptaan-Nya. Alam semesta ini. Darimana alam semesta ini berasal? Pastilah ada yang menciptakannya. Siapakah Dia yang Maha Agung itu?
    Dialah ALLAH SWT (Maha Suci dan Maha Tinggi). Dialah yang mengadakan segala sesuatu dan Dia pulalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk diri kita.

    Sesungguhnya Rabb kamu ialah ALLAH yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak ALLAH. Maha suci ALLAH, Rabb semesta alam. (QS. Al-A’râf: 54)

  2. Qidam, artinya dahulu atau awal. Sifat mustahilnya Hudûs, artinya baru.

    Maksudnya, adanya ALLAH adalah yang paling awal sebelum adanya alam semesta ini. Adanya ALLAH berbeda dengan adanya alam semesta beserta isinya. Perbedaan tsb terdapat pada kejadian dan prosesnya.
    Kita ambil contoh: Adanya hujan didahului oleh terjadinya penguapan air laut.
    Terjadinya pemuaian logam didahului oleh adanya panas.
    Berbeda dengan alam semesta ini, adanya ALLAH tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu, karena ALLAH zat yang paling awal. ALLAH adalah pencipta alam semesta, tidak mungkin hasil ciptaan lebih dulu ada dari Sang Penciptanya.

    Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadîd: 3)

  3. Baqa’, artinya kekal. Sifat mustahilnya Fana, artinya rusak.

    Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik itu manusia, binatang, tumbuhan, planet, bintang, bulan, dll, suatu saat akan mengalami kerusakan dan akhirnya mengalami kehancuran. Manusia, betapa pun gagah perkasa dirinya, suatu saat pasti mati.
    Apapun wujudnya, seluruh ciptaan ALLAH di dunia ini akan mengalami kerusakan. Hanya ALLAH SWT, Sang Pencipta, yang tidak akan rusak dan hancur, karena ALLAH bersifat kekal.

    Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahmân: 26-27)

    Sungguh, betapa hina dan lemahnya kita di hadapan ALLAH, betapa tidak patutnya kita berbangga diri dengan kehebatan kita, karena segala kehebatan itu hanyalah sementara. Kelak semua akan berakhir, yang tersisa hanyalah amalan kita. Oleh sebab itu perbanyaklah amal selagi kita masih diberi kelapangan waktu di dunia ini. Dan bertaubatlah dengan kesalahan-kesalahan kita selagi kematian belum menghampiri kita.

  4. Mukhalafatuhu lil hawadits, artinya berbeda dengan ciptaannya. Sifat mustahilnya Mumatsalatuhu lil hawadits, artinya serupa dengan ciptaannya.

    Sifat ini menjelaskan bahwa ALLAH berbeda dengan hasil ciptaan-Nya.
    Coba kita gunakan analogi, pelukis dengan lukisannya, pembuat patung dengan patung karyanya, apakah ada kesamaan antara pencipta dengan hasil ciptaannya? tentu tidak bukan? Bahkan robot yang paling canggih dan mirip dengan manusia sekalipun tidak akan sama dengan manusia penciptanya.
    Begitulah ALLAH, Sang Pencipta, sudah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya.

    … Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syûra: 11)

    Dengan memahami sifat ALLAH ini, semoga kita tidak akan terjebak pada perbuatan takhyul dan syirik, yaitu menyembah selain ALLAH atau menyekutukan ALLAH. Tak ada suatu pun selain ALLAH yang pantas disembah. Menyembah selain ALLAH adalah perbuatan yang hina dan merendahkan martabat manusia sendiri.

  5. Qiyamuhu binafsihi, artinya berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan yang lain. Sifat mustahilnya Ihtiyaju lighairihi, artinya berdiri dengan bantuan yang lain.

    Keberadaan makhluk ALLAH, tidak lepas dari bantuan yang lain. Manusia lahir karena ada kedua orangtuanya, tumbuh dan berkembang karena dipelihara dan dirawat oleh orangtuanya. Bahkan setelah besar pun, manusia tetap tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

    ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali-Imran: 2)

    Sadarlah kita, bahwa ternyata kita ini makhluk yang sangat lemah, karena tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Semoga kita pun menyadari pentingnya berbuat kebajikan dengan sesama. Karena itu sungguh tepat jika ALLAH memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa.

    … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Mâidah: 2)

  6. Wahdaniyyah, artinya esa atau tunggal. Sifat mustahilnya Ta’addud, artinya berbilang atau lebih dari satu.

    Keesaan ALLAH itu mutlak. Artinya keesaan ALLAH meliputi zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
    Meyakini keesaan ALLAH, merupakan hal yang sangat prinsipil, sehingga seseorang dianggap muslim atau tidak, tergantung pada pengakuan tentang keesaan ALLAH. Ini bisa kita lihat bahwa untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus bersaksi terhadap keesaan ALLAH, yaitu dengan membaca syahadat tauhid yang berbunyi Aku bersaksi tiada Tuhan selain ALLAH. Meyakini keesaan ALLAH juga merupakan inti ajaran para nabi, sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.

    Mustahil ALLAH lebih dari satu. Apabila itu terjadi, tentulah tidak akan tercipta alam semesta yang teratur ini. Keteraturan alam semesta telah membuktikan pada kita bahwa ALLAH itu Tunggal.

    Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS. Al-Anbiyâ: 22)

    Dengan menghayati sifat wahdaniyyah ini, kita akan terhindar dari berbagai paham ketuhanan. Ada 2 macam paham ketuhanan, yaitu monoteisme dan politeisme. Monoteisme menyatakan bahwa Tuhan adalah satu, sedang politeisme menyatakan bahwa tuhan lebih dari satu. Agama-agama yang memiliki kepercayaan banyak dewa dan dewi yang mengatur alam semesta ini, adalah salah satu contoh paham politeisme.
    Islam adalah agama yang mengakui paham monoteisme secara mutlak. Tuhan dalam Islam hanyalah ALLAH, Pencipta dan Pengatur Alam Raya beserta isinya.

  7. Qudrah, artinya berkuasa. Sifat mustahilnya ‘Ajzun, artinya lemah.

    Kekuasaan ALLAH adalah kekuasaan yang sempurna, karena kekuasaan ALLAH tidak terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Bagi ALLAH, jika ALLAH telah berkehendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, maka tidak ada suatu pun yang dapat menghalangi-Nya.

    … Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 20)

    Sungguh tidak patut kita sebagai manusia bersifat sombong dengan kekuasaan yang kita miliki, karena sebesar apa pun kekuasaan kita, kekuasaan ALLAH pasti lebih besar, dan yang Terbesar. Jika ALLAH berkehendak, Dia dapat menghilangkan kekuasaan kita dalam sekejap, dan kita tak akan berdaya untuk mempertahankannya.

  8. Iradah, artinya berkehendak. Sifat mustahilnya Karahah, artinya terpaksa.

    ALLAH memiliki sifat selalu berkehendak. Kehendak ALLAH sesuai kemauan ALLAH sendiri, tak ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Kehendak ALLAH juga tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Kehendak ALLAH tidak terbatas, karena Ia dapat melakukan apa saja tanpa ada kuasa lain yang dapat mencegah-Nya.
    Manusia juga berkehendak, tapi kehendak manusia adalah terbatas pada kemampuannya sendiri.

    • Manusia boleh berkehendak, namun ALLAH jualah yang menentukan hasilnya.

    • Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

    • Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga.

    • Di atas langit masih ada langit.

    Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedang ALLAH memiliki segala kehendak yang tidak terbatas. Meskipun demikian, ALLAH memberi kebebasan pada manusia untuk berusaha dan berkehendak, namun semua terpulang pada kehendak ALLAH dan kita harus berserah diri menerima apapun hasilnya.

  9. Ilmu, artinya mengetahui. Sifat mustahilnya Jahlun, artinya bodoh.

    Segala yang ada di alam raya ini, baik yang besar maupun yang kecil, yang terlihat maupun yang tersembunyi, tidak ada yang luput dari pengetahuan ALLAH. ALLAH Maha Luas ilmunya, begitu luasnya ilmu ALLAH sehingga jika seluruh air di lautan ini dijadikan tinta dan seluruh pohon dijadikan alat tulisnya, tak akan mampu menuliskan ilmu ALLAH.

    Kita sering kagum atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia ini. Kita takjub akan indahnya karya dan canggihnya teknologi yang diciptakan manusia.
    Sadarkah kita, bahwa ilmu yang kita saksikan itu hanyalah sebagian kecil saja yang diberikan ALLAH pada otak kita?

    Sungguh, ilmu ALLAH jauh melampaui semua itu, begitu tingginya ilmu ALLAH sehingga terkadang kita tak mampu untuk mengikuti dan memahaminya.

    Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hujurât: 16)

    Semoga dengan memahami sifat ilmu ini, kita sebagai hamba akan terdorong untuk terus menimba ilmu, selagi kita hidup, karena kita sadar bahwa sebanyak apapun ilmu yang telah kita ketahui, masih lebih banyak lagi ilmu yang belum kita diketahui. Semakin banyak ilmu kita, mudah-mudahan juga menambah rasa kagum dan syukur kita kepada ALLAH. Betapa hebatnya Ia, betapa tinggi ilmu-Nya, dan betapa kepandaian kita ini belum apa-apa dibandingkan dengan kepandaian ALLAH.

  10. Hayat, artinya hidup. Sifat mustahilnya Mautun, artinya mati.

    Hidupnya ALLAH berbeda dengan hidupnya manusia. Perbedaan itu antara lain dapat kita lihat bahwa ALLAH hidup tanpa ada yang menghidupkan. Manusia dan makhluk hidup lain hidup karena dihidupkan oleh ALLAH SWT.
    ALLAH hidup tidak bergantung dengan yang lain, sedang manusia hidupnya sangat bergantung dengan yang lain.
    ALLAH hidup selama-lamanya, tidak mengalami kematian, bahkan mengantuk pun tidak. Manusia suatu saat pasti akan mengalami mati.

    ALLAH tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur… Al-Baqarah: 255

    ALLAH Maha Hidup, tidak mengantuk, tidak tidur, apalagi mati. Dan selama itu pula ALLAH selalu mengurus dan mengawasi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu berhati-hati dalam segala tindakan, karena gerak-gerik kita selalu diawasi dan dicatat oleh ALLAH, tak ada yang terlewatkan. Kelak di akhirat seluruh amalan tsb harus kita pertanggungjawabkan.

  11. Sam’un, artinya mendengar. Sifat mustahilnya Samamum, artinya tuli.

    ALLAH Maha Mendengar. Pendengaran ALLAH tidak terbatas dan tidak terhalang oleh jarak, ruang, dan waktu. Selemah apa pun suara, ALLAH mendengarnya. Berbeda dengan manusia, pendengarannya sangat terbatas. Meski saat ini teknologi manusia sudah maju, untuk mendengar suara jarak jauh sudah bisa diatasi dengan media elektronik, namun jangkauannya tetap masih terbatas. Suara bisikan, suara yang terhalang oleh benda-benda tertentu, tetap tidak bisa kita dengarkan. Pendengaran manusia juga mengalami penurunan seiring dengan semakin tuanya kita.

    Tapi pendengaran ALLAH tidak demikian. ALLAH bisa mendengar suara yang sehalus apapun tanpa memerlukan alat bantu apapun. Pendengaran ALLAH tidak akan melemah sampai kapanpun.

    …Dan ALLAH-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mâidah: 76)

    Dengan menyadari sifat sam’un ALLAH ini, semestinyalah kita senantiasa bertingkah laku, bersikap, berbicara, dan berpikir dengan bahasa yang santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Karena ALLAH selalu mendengar segala perkataan manusia, baik yang terucap maupun hanya sekedar bisikan di dalam hati.

  12. Basar, artinya melihat. Sifat mustahilnya ‘Ama, artinya buta.

    Mustahil ALLAH buta, karena ALLAH Maha sempurna, termasuk sempurna penglihatan-Nya. Penglihatan ALLAH bersifat mutlak, tidak terhalang oleh apa pun. ALLAH melihat segala sesuatu, baik yang besar dan kecil, yang nampak dan tersembunyi. Penglihatan ALLAH bersifat terus-menerus, ALLAH tidak pernah lalai walau sedetik pun dari melihat segala perbuatan kita.

    Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hujurât: 18)

    Dengan memahami sifat basar ALLAH ini, hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita sadar bahwa kita tidak bisa membohongi atau menyembunyikan kebohongan apa pun di hadapan ALLAH. Kepada manusia kita bisa berbohong, tapi tidak terhadap ALLAH, karena ALLAH melihat segala perbuatan kita.
    Kelak di kemudian hari akan ditampakkan segala perbuatan dan kebohongan yang kita sembunyikan. Oleh sebab itu berbuat baiklah selalu, supaya kita tidak perlu merasa takut dan cemas jika suatu saat seluruh perbuatan kita akan disaksikan dan dimintakan pertanggujawabannya.

  13. Kalam, artinya berkata atau berfirman. Sifat mustahilnya Bukmum, artinya bisu.

    Bukti ALLAH bersifat kalam dapat kita lihat dari kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya.
    Al-Quran yang sering kita baca dan kita lafadzkan setiap hari, adalah firman ALLAH yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

    …Dan ALLAH telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisâ: 164)

    Adanya firman ALLAH menjadi bukti bagi kita bahwa ALLAH memperhatikan kita sebagai hamba-Nya. Dengan perantara nabi dan rasul, ALLAH membimbing manusia untuk melakukan amal saleh sesuai yang diajarkan dalam kitab ALLAH.
    Dari firman ALLAH juga, kita dapat mengetahui sejarah dan kisah umat-umat terdahulu, sehingga kita dapat mengambil hikmah, mengikuti yang haq dan meninggalkan yang bathil.

Asmaul Husna

ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.

Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)

Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’râf: 180)

Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.

No Nama Arti Antara lain
terdapat dalam
1

ar-Rahmaan

Yang Maha Pemurah

Al-Faatihah: 3

2

ar-Rahiim

Yang Maha Pengasih

Al-Faatihah: 3

3

al-Malik

Maha Raja

Al-Mu’minuun: 11

4

al-Qudduus

Maha Suci

Al-Jumu’ah: 1

5

as-Salaam

Maha Sejahtera

Al-Hasyr: 23

6

al-Mu’min

Yang Maha Terpercaya

Al-Hasyr: 23

7

al-Muhaimin

Yang Maha Memelihara

Al-Hasyr: 23

8

al-‘Aziiz

Yang Maha Perkasa

Aali ‘Imran: 62

9

al-Jabbaar

Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari

Al-Hasyr: 23

10

al-Mutakabbir

Yang Memiliki Kebesaran

Al-Hasyr: 23

11

al-Khaaliq

Yang Maha Pencipta

Ar-Ra’d: 16

12

al-Baari’

Yang Mengadakan dari Tiada

Al-Hasyr: 24

13

al-Mushawwir

Yang Membuat Bentuk

Al-Hasyr: 24

14

al-Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

Al-Baqarah: 235

15

al-Qahhaar

Yang Maha Perkasa

Ar-Ra’d: 16

16

al-Wahhaab

Yang Maha Pemberi

Aali ‘Imran: 8

17

ar-Razzaq

Yang Maha Pemberi Rezki

Adz-Dzaariyaat: 58

18

al-Fattaah

Yang Maha Membuka (Hati)

Sabaa’: 26

19

al-‘Aliim

Yang Maha Mengetahui

Al-Baqarah: 29

20

al-Qaabidh

Yang Maha Pengendali

Al-Baqarah: 245

21

al-Baasith

Yang Maha Melapangkan

Ar-Ra’d: 26

22

al-Khaafidh

Yang Merendahkan

Hadits at-Tirmizi

23

ar-Raafi’

Yang Meninggikan

Al-An’aam: 83

24

al-Mu’izz

Yang Maha Terhormat

Aali ‘Imran: 26

25

al-Mudzdzill

Yang Maha Menghinakan

Aali ‘Imran: 26

26

as-Samii’

Yang Maha Mendengar

Al-Israa’: 1

27

al-Bashiir

Yang Maha Melihat

Al-Hadiid: 4

28

al-Hakam

Yang Memutuskan Hukum

Al-Mu’min: 48

29

al-‘Adl

Yang Maha Adil

Al-An’aam: 115

30

al-Lathiif

Yang Maha Lembut

Al-Mulk: 14

31

al-Khabiir

Yang Maha Mengetahui

Al-An’aam: 18

32

al-Haliim

Yang Maha Penyantun

Al-Baqarah: 235

33

al-‘Azhiim

Yang Maha Agung

Asy-Syuura: 4

34

al-Ghafuur

Yang Maha Pengampun

Aali ‘Imran: 89

35

asy-Syakuur

Yang Menerima Syukur

Faathir: 30

36

al-‘Aliyy

Yang Maha Tinggi

An-Nisaa’: 34

37

al-Kabiir

Yang Maha Besar

Ar-Ra’d: 9

38

al-Hafiizh

Yang Maha Penjaga

Huud: 57

39

al-Muqiit

Yang Maha Pemelihara

An-Nisaa’: 85

40

al-Hasiib

Yang Maha Pembuat Perhitungan

An-Nisaa’: 6

41

al-Jaliil

Yang Maha Luhur

Ar-Rahmaan: 27

42

al-Kariim

Yang Maha Mulia

An-Naml: 40

43

ar-Raqiib

Yang Maha Mengawasi

Al-Ahzaab: 52

44

al-Mujiib

Yang Maha Mengabulkan

Huud: 61

45

al-Waasi’

Yang Maha Luas

Al-Baqarah: 268

46

al-Hakiim

Yang Maha Bijaksana

Al-An’aam: 18

47

al-Waduud

Yang Maha Mengasihi

Al-Buruuj: 14

48

al-Majiid

Yang Maha Mulia

Al-Buruuj: 15

49

al-Baa’its

Yang Membangkitkan

Yaasiin: 52

50

asy-Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

Al-Maaidah: 117

51

al-Haqq

Yang Maha Benar

Thaahaa: 114

52

al-Wakiil

Yang Maha Pemelihara

Al-An’aam: 102

53

al-Qawiyy

Yang Maha Kuat

Al-Anfaal: 52

54

al-Matiin

Yang Maha Kokoh

Adz-Dzaariyaat: 58

55

al-Waliyy

Yang Maha Melindungi

An-Nisaa’: 45

56

al-Hamiid

Yang Maha Terpuji

An-Nisaa’: 131

57

al-Muhshi

Yang Maha Menghitung

Maryam: 94

58

al-Mubdi’

Yang Maha Memulai

Al-Buruuj: 13

59

al-Mu’id

Yang Maha Mengembalikan

Ar-Ruum: 27

60

al-Muhyi

Yang Maha Menghidupkan

Ar-Ruum: 50

61

al-Mumiit

Yang Maha Mematikan

Al-Mu’min: 68

62

al-Hayy

Yang Maha Hidup

Thaahaa: 111

63

al-Qayyuum

Yang Maha Mandiri

Thaahaa: 11

64

al-Waajid

Yang Maha Menemukan

Adh-Dhuhaa: 6-8

65

al-Maajid

Yang Maha Mulia

Huud: 73

66

al-Waahid

Yang Maha Tunggal

Al-Baqarah: 133

67

al-Ahad

Yang Maha Esa

Al-Ikhlaas: 1

68

ash-Shamad

Yang Maha Dibutuhkan

Al-Ikhlaas: 2

69

al-Qaadir

Yang Maha Kuat

Al-Baqarah: 20

70

al-Muqtadir

Yang Maha Berkuasa

Al-Qamar: 42

71

al-Muqqadim

Yang Maha Mendahulukan

Qaaf: 28

72

al-Mu’akhkhir

Yang Maha Mengakhirkan

Ibraahiim: 42

73

al-Awwal

Yang Maha Permulaan

Al-Hadiid: 3

74

al-Aakhir

Yang Maha Akhir

Al-Hadiid: 3

75

azh-Zhaahir

Yang Maha Nyata

Al-Hadiid: 3

76

al-Baathin

Yang Maha Gaib

Al-Hadiid: 3

77

al-Waalii

Yang Maha Memerintah

Ar-Ra’d: 11

78

al-Muta’aalii

Yang Maha Tinggi

Ar-Ra’d: 9

79

al-Barr

Yang Maha Dermawan

Ath-Thuur: 28

80

at-Tawwaab

Yang Maha Penerima Taubat

An-Nisaa’: 16

81

al-Muntaqim

Yang Maha Penyiksa

As-Sajdah: 22

82

al-‘Afuww

Yang Maha Pemaaf

An-Nisaa’: 99

83

ar-Ra’uuf

Yang Maha Pengasih

Al-Baqarah: 207

84

Maalik al-Mulk

Yang Mempunyai Kerajaan

Aali ‘Imran: 26

85

Zuljalaal wa al-‘Ikraam

Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan

Ar-Rahmaan: 27

86

al-Muqsith

Yang Maha Adil

An-Nuur: 47

87

al-Jaami’

Yang Maha Pengumpul

Sabaa’: 26

88

al-Ghaniyy

Yang Maha Kaya

Al-Baqarah: 267

89

al-Mughnii

Yang Maha Mencukupi

An-Najm: 48

90

al-Maani’

Yang Maha Mencegah

Hadits at-Tirmizi

91

adh-Dhaarr

Yang Maha Pemberi Derita

Al-An’aam: 17

92

an-Naafi’

Yang Maha Pemberi Manfaat

Al-Fath: 11

93

an-Nuur

Yang Maha Bercahaya

An-Nuur: 35

94

al-Haadii

Yang Maha Pemberi Petunjuk

Al-Hajj: 54

95

al-Badii’

Yang Maha Pencipta

Al-Baqarah: 117

96

al-Baaqii

Yang Maha Kekal

Thaahaa: 73

97

al-Waarits

Yang Maha Mewarisi

Al-Hijr: 23

98

ar-Rasyiid

Yang Maha Pandai

Al-Jin: 10

99

ash-Shabuur

Yang Maha Sabar

Hadits at-Tirmizi

Dasar-dasar Tauhid

Iklan
Tag:

1 Response to "TAUHID"

bagus artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Negara Yang Sudah Berkunjung

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

RSS Kawan Sejati

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Koleksi Film Harun Yahya

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog Partnerku (elsabarto.co.cc)

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Lihat Berita Detik Net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Presiden SBY

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Yang Sudah Mampir Ada

  • 626,533 Orang
%d blogger menyukai ini: